Oleh: rukmono | Desember 21, 2008

RUU BHP

Salah satu perkembangan mutakhir pendidikan Indonesia adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP)..

menjadi Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) (17/12/2008) oleh DPR RI. UU BHP menempatkan satuan pendidikan sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi luas, akademik maupun non akademik, tanpa khawatir lagi dengan kooptasi birokrasi. Otonomi yang diberikan dikunci oleh Undang-Undang BHP harus dilandasi oleh prinsip-prinsip seperti nirlaba, akuntabilitas, transparan, jaminan mutu dan seterusnya yang memastikan tidak boleh ada komersialisasi dalam BHP. BHP memastikan bahwa komitmen pemerintah untuk membantu lembaga pendidikan tidak pernah berkurang bahkan bertambah besar.
Namun dibalik idealisme dan tujuan Undang-Undang BHP itu dibuat, muncul kritik-kritik dari beberapa kalangan yang mengatakan bahwa BHP adalah sebuah produk undang-undang yang digerakkan oleh mitos otonomi. BHP tidak lebih dari sebuah bentuk lepas tangan Negara atas pembiayaan pendidikan nasional. Lembaga Pendidikan akan mengarah pada tujuan pragmatis komersil ketimbang pada tujuan kritis dan blok histories yang mencerdaskan bangsa dan melahirkan putra-putra terbaik yang bisa membaca tanda-tanda zaman. Pada akhirnya BHP melegasisasi suatu kesempatan kepada satuan pendidikan untuk memberi peluang bagi calon mahasiswa berkapasitas intelegensia rendah untuk mengambil kursi mahasiswa lain yang berkualitas tinggi jika mampu memberi imbalan tertentu.

Itu adalah wacana pemikiran yang lazim dalam sebuah Negara demokratis. Pembentukan Undang-Undang BHP ini adalah merupakan amanah dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 53 ayat (1) bahwa “penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum”. Pembentukan BHP ini adalah merupakan bentuk koreksi atas pelaksanaan BHMN yang telah berjalan selama ini dan bukan replika dari BHMN.

Undang-Undang BHP menempatkan satuan pendidikan bukan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Departemen Pendidikan Nasional, tapi sebagai suatu unit yang otonom. Rantai birokrasi diputus habis diserahkan ke dalam organ badan hukum pendidikan yang menjalankan fungsi badan hukum: penentuan kebijakan umum dan pengelolaan pendidikan. Misalnya di dalam satuan pendidikan perguruan tinggi, praktek selama ini bahwa untuk memilih seorang rektor harus melewati tujuh lapis birokrasi (tingkat senat, Dirjen Dikti, Inspektora Jenderal, Sekjen Depdiknas, Menteri Pendidikan Nasional, Tim penilai akhir Sekretariat Negara dan akhirnya sampai ke Presiden). Saat ini, dengan BHP hal itu tidak lagi terjadi, rektor dipilih dan ditetapkan oleh organ representasi pemangku kepentingan.

UU BHP menjamin bahwa peserta didik hanya membayar biaya pendidikan paling banyak 1/3 dari biaya operasional satu satuan pendidikan, bukan biaya investasi. Selama ini satuan pendidikan sangat tergantung dari pendanaan dari peserta didik bahkan sampai sembilan puluh persen. Saat ini, BHP membatasi menjadi 1/3 maksimal dari biaya operasional. Ini adalah jaminan Undang-Undang BHP bahwa kenaikan SPP seperti yang banyak dikhawatirkan rasanya tidak mungkin terjadi.

UU BHP menjamin secara khusus warga negara Indonesia yang tidak mampu secara ekonomi tapi berpotensi secara akademik, terutama yang ada di quintil lima termiskin, dimana sampai saat ini hanya 3 Persen dari kategori ini yang menikmati pendidikan tinggi. Satuan Pendidikan BHP wajib menjaring dan menerima warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dan kurang mampu paling sedikit 20 persen dari keseluruhan peserta didik yang baru. Satuan Pendidikan BHP harus menunjukkan kepada publik bahwa mereka menerima dan menyediakan paling sedikti 20 persen beasiswa atau bantuan biaya pendidikan untuk mereka yang kurang mampu dan/atau peserta didik yang memiliki potensi akademiki tinggi.

Undang-Undang BHP mengikat tanggungjawab pemerintah dalam pendanaan pendidikan. Misalnya Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, investasi, beasiswa dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik. Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. menurut Dirjen Dikti, dr. Fasli Jalal, Ph.D dalam konferensi Pers (18/12) justru pemerintah yang akan pontang-panting mencarikan dana untuk tanggung jawab yang sangat besar ini.

Sebagai badan hukum, satuan pendidikan memiliki wewenang hukum untuk melakukan tindakan hukum dan konsekwensi hukum atas penggunaan hak itu. Pasal 63 menyebutkan “ setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1), pasal 38 ayat (3), dan pasal 39 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun da dapat ditambah dengan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 4 ayat (1), pasal 38 ayat (3) da pasal 39 adalah pasal yang mengatakan bahwa pendidikan itu adalah nirlaba, seluruh sisa dari hasil usaha dari kegiatan BHP harus ditanamkan kembali ke dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan pendidikan.(Irwandi)

Oleh: rukmono | September 25, 2008

MR HATCHIH!!!!

Hari ini aku pilek, hidung mampet dan sering bersin bersin. Tapi aku memaksakan diri masuk sekolah. “HATCHIH!!! HATCHIH!!!” Karena sering bersin, teman teman memanggilku MR Hatchih! Setiap kali aku bersin , teman teman menertawaiku.

Bu Rifa guru agama kami mengetahui hal ini, lalu membibing kami,” Bila salah seorang diantara kalian bersin, ucapkanlah ALHAMDULILLAH. Nah, orang yang mendengar hendaknya  mengucapkan YARHAMUKALLAH. Lalu, yang bersin, hendaklah mengucapkan YAHDIKUMULLAAHU WA YUSHLIHU BAALAKUM !”

Sejak itu teman teman tidak meledekku dengan sebutan MR Hatchih lagi Kini, mereka tahu bila ada yang bersin merekapun mendoakan nya.

dari buku La Tahzan

waktu doa mustajabah

Oleh: rukmono | September 10, 2008

SETIAP ORANG HARUS BEKERJA KERAS

Ketahui apa yang Anda harus lakukan, dan laksanakan. Banyak majalah manajemen memuat diskusi tentang keunggulan relatif manajemen top-down lawan manajemen bottom-up. Tetapi mempersoalkan hal ini adalah tidak tepat. Manajemen top-down tidak akan berhasil bila orang dibawah yang menerima  perintah  tidak patuh pada manajemen. Sebaliknya, mustahil memperoleh manfaat yang sebesar besarnya dari manajemen bottom-up bila orang di atas tidak memiliki komitmen untuk melaksanakannya.

Bisnis sebenarnya mirip regu olah raga beberapa orang adalah menejernya, yang lain pemainnya, yang lain lagi pendukungnya dan semua harus melakukan tugas masing masing bila tim ingin memperoleh kemenangan. Tim terbaik adalah tim dimana setip orang mengetahui apa yang menjadi tugas masing masing dan melaksanakan tugas tugas itu.

Oleh: rukmono | Maret 31, 2008

HIDUP ADALAH PERBEDAAN

Sesuatu yang hidup diperlukan adanya perbedaan . Dengan kekuasaanya Allah, bumi ini berputar karena adanya perbedaan yaitu adanya kutub utara dan kutub selatan ,adanya siang dan malam, laki-laki dan wanita, kaya&miskin,dll. Bahkan atompun bergerak karena adanya perbedaan. jadi menurut anggapan saya bahwa sesuatu yang hidup harus adanya perbedaan. oleh sebab itu kita harus menyikapi perbedaan sebagai awal dari sebuah ilmu yang bermanfaat.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.